Rabu, 07 Februari 2018

, , , , ,

Pasar Seni Padangrani, Pertemuan si Antik dan Nostalgia

 

Sudah sempat membaca tulisan saya sebelumnya mengenai pengalaman "Suatu Siang di Taman Srigunting Semarang"?

Nah, sebenarnya masih satu kompleks dengan Taman Srigunting ini ada satu spot yang sangat menarik, berisi berbagai macam barang antik.


Saya yang memang sangat menyukai pemandangan berbau antik akhirnya lebih bersemangat untuk menyusuri Jalan R. Soeprapto, setelah sempat membeli sebotol air mineral di minimarket seberang Taman Srigunting.

Tertulis jelas di gerbang masuk menuju lokasi barang-barang antik tersebut berada, bahwa tempat yang saya tuju saat ini bernama Pasar Seni/Klitik Padangrani. Nama Padangrani sendiri merupakan singkatan dari "Paguyuban Pedagang Barang Seni" yang ada di Kota Semarang.

Si Uang Kuno Dari Tahun 1950-an


 
Pasar Seni Padangrani

 

Menyusuri kios-kios yang berjajar rapi di Pasar Seni Padang Rani, saya menemukan berbagai macam barang lawas. Bahkan sebagian besar sudah ada jauh sebelum saya dilahirkan ke dunia ini, mungkin barang-barang tersebut diciptakan saat kakek dan nenek saya masih remaja atau bahkan anak-anak.

Beberapa diantaranya seperti radio lawas dan uang kuno - baik kertas maupun koin - dari tahun 1950-an. Tahun dimana orang tua saya pun saat itu belum lahir. Meskipun barang-barang lawas, terlihat bahwa pedagang sangat menjaga kualitas dari barang-barang tersebut. Bahkan uang-uang kertas kuno yang dipajang juga tampak seperti baru.

Nostalgia Dengan Lonceng dan Setrika Arang Berbahan Kuningan


 
Pasar Seni Padangrani

 

Ada satu kios yang kemudian membuat saya tertarik untuk melihat koleksinya lebih dekat. Kios tersebut berisi deretan setrika kuno, lonceng sapi (dulu biasa digunakan sebagai gantungan kalung sapi atau kerbau), gantungan lonceng, dudukan lilin dan berbagai barang berbahan kuningan maupun perunggu yang lainnya.

Dari deretan barang antik yang dijajakan tersebut, keluarga saya pernah memiliki lonceng sapi dan setrika arang. Saya tidak tahu persis darimana ayah saya bisa mendapatkan setrika arang yang sampai saat ini masih disimpan rapi di rumah orang tua saya. Hanya saja, sejak tahun 2003 sampai 2008 saya harus bersahabat dengan setrika arang tersebut demi mendapatkan seragam yang 'licin' setiap berangkat sekolah.

Pindah ke desa kecil di Lampung yang masih belum dialiri listrik pada tahun 2003 menjadi PR tersendiri bagi saya, yang saat itu masih duduk di kelas 5 SD. Saya yang sebelumnya tinggal di Semarang dan terbiasa memakai baju yang disetrika menggunakan setrika listrik, harus membiasakan diri menyetrika sendiri bajunya menggunakan setrika arang. Ajaibnya lagi, sampai tahun 2008, saat saya lulus SMP, listrik masih belum juga masuk ke desa yang saya tinggali.

 
Pasar Seni Padangrani

 

Meskipun begitu, saya jadi punya pengalaman istimewa selama menggunakannya. Setidaknya saya jadi tahu bahwa arang dari batok kelapa atau kayu kopi adalah yang terbaik digunakan untuk setrika arang. Hal tersebut karena arang dari batok kelapa maupun kayu kopi nyala dan panasnya tahan lama. Selain mudah padam, abu yang dihasilkan juga tidak sebanyak arang dari kayu-kayu lainnya. Sudah pasti lebih aman mennghindarkan seragam dan baju putih dari noda hitam saat disetrika.

Selain itu, kendati nyalanya harus tetap dijaga dengan dikipas. Tetap saja setrika arang menghasilkan panas yang bisa membuat pakaian jadi "gosong" dan "bolong" jika tidak hati-hati. Termasuk saat meniup arang terlalu dekat dengan baju yang akan disetrika, percikan arang kecil bisa terbang dan menempel di baju yang akhirnya membuat baju tersebut berlubang.

Nah, kalau untuk lonceng sapi, ayah saya yang memanfaatkannya. Ya, karena sepanjang saya masih tinggal di Lampung, pekerjaan ayah saya adalah membajak sawah yang artinya harus mengurus sapi. Agar lebih mudah mengetahui posisi si sapi saat dibawa ke ladang atau sawah, ayah memasangkan lonceng seperti di foto ke kalung si sapi. Sejujurnya saya pernah pegang dan itu berat sih, kalau saya jadi si sapi pastinya sudah mengeluh karena leher jadi terasa berat. Haha

Canon, Nikon, Fujifilm, Samsung, Minolta Dalam Model Lawas


 
Pasar Seni Padangrani

 

Eits, ada kios lain yang tidak kalah menarik bagi saya, di dalamnya terdapat berbagai macam kamera yang sebagian besar sudah sangat sulit ditemukan di pasaran saat ini. Bisa dibilang memang tidak banyak kios yang memajang kamera kuno seperti di kios tersebut.

Saya bisa melihat jelas ada beberapa kamera dengan nama familiar seperti Canon, Nikon, Fujifilm, atau Samsung. Meskipun ada juga kamera-kamera seperti Minolta dan sederet kamera lainnya yang saya tidak begitu 'kenal'.

 
Pasar Seni Padangrani

 

Bagi saya yang menyukai fotografi - tidak peduli se-absurd apa pun hasil jepretannya - beberapa kamera di kios tersebut lebih terlihat seperti berlian. Ingin hati memboyong beberapa diantaranya, tapi mungkin akan lebih sering ada di lemari hias dibanding digunakan. Terlebih untuk kamera analog, karena di sekitar tempat tinggal saya saat ini sudah sangat sulit menemukan tempat 'cuci' foto.

Aksesoris Vintage, Koran Lawas, Lukisan, hingga Buku-buku Terjemahan


 
Pasar Seni Padangrani

 

Bukan hanya berisi barang-barang lawas, Pasar Seni Padangrani juga menjajakan berbagai kerajinan tangan. Bahkan tidak sedikit juga aksesoris vintage, seperti kacamata, gantungan kunci, kalung, gelang dan masih banyak lagi.

Ada juga kios yang khusus berisi buku-buku lawas. Beberapa diantaranya buku asli karya penulis tanah air, buku terjemahan, dan ada juga buku-buku yang masih berbahasa asing (kebanyakan Inggris dan Mandarin). Termasuk beraneka macam lukisan yang juga dijajarkan di sepanjang Pasar Seni Padangrani.

 
Pasar Seni Padangrani

 

Ada juga lho koran-koran bekas dari tahun 1930-an yang dijajakan di salah satu kios. Bapak-bapak penjual atau pemandu yang ada di sekitar akan menjelaskan dengan detail mengenai sejarah dari buku atau koran-koran lawas tersebut. Jangan bilang-bilang ya kalau harga koran yang berisi salah satu karya penulis legendaris tersebut harganya mencapai 300 ribu rupiah. ^^

Spot Swafoto Dengan Nuanasa Vintage


 
Pasar Seni Padangrani

 

Tidak cukup menyajikan berbagai pilihan barang antik yang menggoda hati, Pasar Seni Padangrani juga menyediakan spot-spot swafoto bernuansa vintage. Salah satunya seperti yang ada dalam foto di atas. Tapi, untuk kendaraan yang berbentuk mirip vespa di samping si sepeda itu bisa disewa untuk jalan-jalan. Kalau tidak salah ingat si bapak menawarkan kepada saya 30 ribu rupiah untuk berkeliling naik vespa antik tersebut. Bisa dinaiki dua orang sekaligus pula.

Nah, kalau hanya ingin berswafoto bertema vintage di spot yang sudah disediakan pengelola Pasar Klitik Padarani, jangan lupa menyisihkan uang untuk dimasukkan ke dalam kotak sumbangan, ya. Hitung-hitung untuk mendukung pelestarian dan perkembangan wisata yang ada.

Wah, sayangnya waktu sudah sore dan saya harus sedikit bergeser ke Semarang Contemporary Art Gallery sebelum benar-benar puas berada di pasar barang antik Padangrani. Semoga di lain kesempatan saya berkesempatan untuk kembali berkunjung dan memboyong beberapa koleksinya.

O iya, bagi yang berniat memboyong koleksi barang antik dari Pasar Seni Padangrani, harganya bisa langsung dinego sendiri dengan penjualnya ya.
 

0 komentar:

Posting Komentar